Tentang Menerima Diri yang Sedang Berproses
Tentang Menerima Diri yang Sedang Berproses
Ada hari-hari di mana aku merasa "kok belum sampai-sampai, ya?" Sudah jalan, sudah usaha, sudah jatuh bangun—tapi rasanya masih di tempat yang sama. Di saat-saat seperti itu, aku paling mudah lupa satu hal: aku ini sedang berproses, bukan sedang diam.
Dulu aku mengira proses itu harus selalu terlihat rapi. Harus naik terus. Harus kelihatan hasilnya. Padahal kenyataannya, proses sering kali berantakan. Ada hari maju, ada hari mundur sedikit, ada hari cuma sanggup berdiri dan bernapas. Dan itu tetap bagian dari perjalanan.
Aku juga sering keras ke diri sendiri. Membandingkan langkahku dengan orang lain. Mengukur waktuku pakai jam mereka. Lalu menyimpulkan: aku lambat. Aku tertinggal. Aku kurang. Padahal, setiap orang punya lintasan yang berbeda—dan itu bukan perlombaan.
Menerima diri yang sedang berproses bukan berarti kita berhenti punya tujuan. Bukan juga berarti pasrah. Itu berarti kita berhenti memukul diri sendiri di tengah jalan. Kita mengakui: "Aku belum sampai, tapi aku sedang berjalan."
Aku mulai belajar merayakan hal kecil: hari ini berani mencoba lagi, hari ini tidak menyerah, hari ini mengerjakan satu hal meski rasanya berat. Kecil, iya. Tapi dari hal-hal kecil itulah perjalanan dibangun.
Ada juga hari di mana aku lelah melihat diriku yang belum jadi-jadi. Di hari seperti itu, aku mencoba mengingatkan diri sendiri: kamu bukan proyek yang harus selesai cepat. Kamu manusia yang sedang tumbuh.
Dan tumbuh itu butuh waktu.
Kalau sekarang kamu merasa hidupmu masih "di tengah-tengah", belum jelas arahnya, belum rapi hasilnya, aku mau bilang: itu nggak apa-apa. Kamu tidak tertinggal. Kamu sedang mengumpulkan langkah-langkahmu sendiri.
Pelan-pelan ya. Terima dirimu yang sedang berproses. Karena sering kali, ketenangan datang bukan saat kita sudah sampai, tapi saat kita berhenti memusuhi diri sendiri di tengah perjalanan. 🌿
Ulasan
Catat Ulasan